MENU DISABILITAS

Jln. Syech Nawawi Al Bantani Blok Instansi Vertikal No.01 KP3B Curug Kota Serang
kanwilbanten@kemenag.go.id
Berita Umum

Peran Sastra Dalam Pembentukan Karakter Anak

Peran Sastra Dalam Pembentukan Karakter Anak


  • Senin, 02 Jul 2018
  • 17 Views

Share this article

Peran Sastra Dalam Pembentukan Karakter Anak Foto : Peran Sastra Dalam Pembentukan Karakter Anak

Peran Sastra Dalam Pembentukan Karakter Anak

Dra. Hj. Nuryati Djihadah, M.Pd., M.A

(Pengawas Kemenag Kota Tangsel)

Meningkatnya tindakan negatif, mengacu pada kriminalitas, dikalangan anak-anak merupakan tanda menurunnya kualitas moral bangsa. Hal ini menunjukkan bahwa sekarang ini banyak perilaku yang menandakan merosotnya nilai-nilai karakter. Nilai karakter merupakan wujud berpikir dalam perilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat bangsa maupun negara. Nilai karakter sebagai modal utama dalam bermasyarakat dapat menentukan kualitas dan produktivitas manusia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurunnya nilai karakter dikhawatirkan dapat menyebabkan rendahnya kualitas dan produktivitas kehidupan masa depan bangsa. Oleh karena itu pendidikan karakter di rumah, sekolah dan masyarakat perlu dibentuk dan dibina sejak dini. Usia dini merupakan usia masa-masa kritis bagi pembentukan karakter. Masa nol tahun sampai dengan masa remaja merupakan masa yang paling penting menanamkan nilai-nilai karakter, sebagai manusia yang berkepribadian baik. Peran orang tua sangat diperlukankan dalam memberikan kebutuhan mental dan perkembangan kepribadiannya. Selain peran orang tua, tidak kurang pentingnya adalah peran guru di sekolah dalam membentuk karakter anak. Sekolah sebagai lingkungan yang bernilai didaktik bagi anak membutuhkan kesadaran bersama bagi para pendidik untuk mnciptakan lingkungan pembelajaran yang mendidik. Orang tua yang menitipkan putera putrinya di sekolah biasanya menuntut sekolah untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi putera putrinya. Banyak orang tua yang berani membayar mahal untuk kebaikan putera putrinya. Banayknya tindakan kriminal dan kenakalan remaja yang terjadi saat ini sangat menghawatirkan orang tua dan masyarakat. Tuntutan penigkatan kembali pendidikan karakter di sekolah-sekolah merupakan suatu kelaziman yang harus dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan. Samani (2012: 2) menyebutkan bahwa pendidikan karakter di Indonesia perlu dikembangkan kembali mengingat semakin banyaknya tawuran antarpelajar, kenakalan remaja, penggunaan obat terlarang, ketidakjujuran, dan perilaku negatif lainnya. Pembentukan karakter anak sejak usia dini dapat dilakukan melalui pembelajaran sastra di sekolah, khususnya sastra anak. Berbeda dengan sastra dewasa, sastra anak merupakan sastra yang ditujukan untuk anak, bukan sastra tentang anak. Namun sastra yang berisi dunia anak dan bisa menginspirasi anak untuk berperilaku dan berakhlak baik. Karya sastra anak menyajikan nilai-nilai dan mengandung imbauan tertentu yang bisa dijadikan  sebagai pedoman yang baik bagi  tingkah laku. Dalam cerita yang diperankan oleh tokoh-tokohnya terdapat perilaku yang mempunyai nilai-nilai moral yang secara eksplisit akan mengubah karakter anak. Penggunaan bahasa sastra yang unik dan imajinatif dapat mengundang emosi anak untuk merasakan dan menghayati peran tokoh dan konflik yang ditimbulkan oleh tokoh-tokohnya. Emosi, imajinasi, dan ekspresi yang diperankan oleh tokoh-tokoh cerita membantu atau menginspirasi anak untuk membentuk karakternya. Sastra anak adalah karya imajinatif dalam bentuk bahasa yang berisi pengalaman, perasaan, dan pikiran anak yang khusus ditujukan pada anak-anak ditulis oleh pengarang anak-anak maupun pengarang dewasa (Rumidjan, 2013:14). Sastra anak harus mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak masa kini, bisa dinikmati dan dipahami melalui pikiran  anak-anak. Kajian dalam sastra anak perlu memuat rasa kesenangan, kegembiraan, kenikmatan, cita-cita, dan petualangan anak. Rasa, karsa, dan cita-cita itu harus memberikan pengaruh positif. Jadi fokus utama sastra anak adalah karya yang mendidik dan menyenangkan. Berkaitan dengan nilai psikologis, sastra anak dapat mengembangkan nilai religius, membangun dan menciptakan rasa nasionalisme,  membentuk kemandirian,  membentuk nilai-nilai gotong- royong, dan penumbuhkan karakter integritas. Selain itu dalam sastra anak, ada  nilai-nilai yang  dapat mengembangkan perkembangan pengetahuan, kecerdasan emosional, kecerdasan bahasa, dan kecerdasan sosial. Pengembangan  lima nilai karakter tersebut dapat diintegrasikan dalam setiap mata pelajaran dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pengembangan pendidikan nilai –nilai karakter tersebut berfungsi mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki anak. Fungsi utama pendidikan karakter, yaitu (1) pembentukan potensi manusia agar berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik. (2) memperkuat peran keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah berpartisipasi dalam pengembangan potensi manusia yang berkarakter, maju, mandiri, dan sejahtera. (3) Memilah nilai-nilai budaya bangsa sendiri dan menyaring nilai-nilai budaya bangsa lain agar menjadi bangsa yang bermartabat. Pendidikan karakter dilakukan pada berbagai jenjang pendidikan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasiona, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Model pendidikan karakter tidak lagi sekedar mengenalkan berbagai aturan dan definisinya, namun lebih menekankan pada sikap, perilaku, dan tanggung jawab. Wilayah pendidikan karakter adalah wilayah afektif yang tidak cukup diukur dengan angket dan jawaban soal dalam kertas ujian. Karakter adalah wilayah pribadi yang menjadi ciri khusus seseorang atau peserta didik. Oleh karena itu peran pendidikan dalam memperbaiki personaliti peserta didik tersebut penting dilakukan. Perlu cara yang strategis dalam mencapai keberhasilan penguatan pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan karakter dapat dijadikan andalan untuk membentuk akhlak mulia sehingga peserta didik menjadi pribadi yang utuh, seimbang, dan tangguh dalam menghadapi tantangan abad 21. Pendidikan karakter di sekolah/madrasah diarahkan dengan pembentukan budaya sekolah/madrasah. Budaya sekolah/madrasah dikondisikan agar dapat membentuk karakter peserta didik yang diharapkan. Sekolah bisa membudayakan nilai-nilai, perilaku, kebiasaan sehari-hari, dan simbol-simbol yang diaturkan dalam membentuk karakter peserta didik. Oleh karena itu perlu model atau keteladanan dalam pelaksanaannya. Pembudayaan tanpa keteladanan akan mendapatkan masalah dalam implementasinya. Penerapan pendidikan karakter bukan hanya dengan penciptaan lingkungan, melainkan menekankan pada keteladanan dan pembiasaan. Penciptaan pembiasaan, iklim, budaya, dan lingkungan baik dan kondusif penting untuk membentuk karakter peserta didik. Berbagai metode penerapan pendidikan karakter berpengaruh dalam keberhasilan menerapkan pendidikan karakter di sekolah. Misalnya: metode penugasan, pembiasaan, pelatihan, pembelajaran, pengarahan, dan keteladanan. Agar setiap pelaksanaan pendidikan karakter berhasil dengan baik, perlu direncanakan dengan baik. Penguatan pendidikan karakter harus dituliskan dalam RPP. Telaah penguatan pendidikan karakter  dapat dilakukan dengan menganalisis SKL, KI, KD, dan menjabarkannya pada langkah-langkah pembelajaran, berbagai kegiatan pembelajaran, pembiasaan, dan pembudayaan di sekolah/madrasah. Misalnya SKL, “menunjukkan keterampilan menyimak, berbcara,  membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana”. Jika ini jabarkan dalam kegiatan belajar mengajar menghasilkan variasi kegiatan. Kegiatan budaya litersi, ekstrakurikuler drama, lomba pidato bahasa Indobesia dan bahasa Inggris, dan lomba membaca/menulis cerpen. Jadi, penguatan pendidikan karakter di sekolah/madrasah bisa dilakukan secara langsung, berbasis budaya sekolah/madrasah, berbasis kelas, dan berbasis budaya masyarakat. Penguatan pendidikan karakter budaya madrasah dapat dilakukan dengan pembiasaan-pembiasaan yang dijadikan peraturan/ kebijakan sekolah/madrasah. Penguatan pendidikan karakter berbasis kelas dapat dilakukan  dengan pemodelan langsung oleh guru. Guru bisa memberikan penguatan pendidikan karakter dengan mengintegrasikan dan mengimplementasikan materi pelajaran  dengan nilai-nilai kehidupan yang  mungkin dihadapi peserta didik Melalui sastra lisan dan sastra tulisan kepribadian anak-anak dibentuk karena sastra diyakini bisa dijadikan sarana menanamkan, mengembangkan, dan melestarikan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Penanaman nilai tersebut dapat dilakukan sejak anak-anak belum berbicara sampai anak-anak dapat berbicara dan membaca. Nyanyian – nyanyian yang didendangkan seorang ibu untuk menidurkan dan menenangkan anak menghidupkan kembali nilai keindahan, nilai kejiwaan, nilai cinta, dan nilai kasih sayang pada anak. Pada dasarnya anak-anak memiliki potensi rasa cinta, kasih sayang, dan nilai keindahan sejak dini. Nilai – nilai sastra tersebut dapat membangkitkan potansi perasaan cinta, kasih sayang, dan keindahan  yang dimiliki oleh anak-anak. Kita bisa mengamati anak-anak yang masih berkata satu atau dua kata tertawa-tawa saat ibunya bernyanyi atau diajak bernyanyi bersama oleh orang-orang terdekatnya.  Pembentukan kepribadian melalui karya sastra tersebut dapat diaplikasikan dalam tingkah laku dan kebiasaan hidup sehari-hari. Ekspresi dan tingkah laku verbal dan nonverbal tersebut dapat meningkatkan nilai personal dan nilai pendidikan.  Nilai-nilai tersebut secara tidak sadar menjadi kebiasaan dan karakter anak. Ditegaskan oleh Burhan Nurgiantoro (2005) bahwa sastra anak diyakini memiliki kontribusi besar bagi perkembangan kepribadian anak dalam proses menuju kedewasaan. Peningkatan potensi nilai personal dapat diamati pada perkembangan nilai relijius, emosional, intelektual, imajinasi, sosial, dan nilai etis. Setelah anak-anak mampu menyimak dan memahami cerita, baik melalui pendengaran maupun membaca langsung, anak-anak mengelola emosinya karena demonstrasi kehidupan yang diperankan oleh tokoh-tokoh dalam cerita atau dongeng yang didengar atau dibaca. Penglolaan emosional inilah yang dapat membentuk kepribadian yang berpengaruh besar dalam menciptakan kesuksesan hidup bagi anak-anak. Anak-anak yang sudah mampu memahami cerita berusaha menghubungkan antarperistiwa yang dialami oleh para tokoh, baik tokoh pratagonis maupun tokoh antagonis. Hubungan yang dibangun dalam suatu cerita adalah hubungan sebab-akibat. Anak-anak menghubungkan satu pristiwa dengan peristiwa lain melalui logikanya setelah mempelajari dan mengkritisinya. Dalam hal ini karya sstra mampu menanamkan, memupuk, dan mengembangkan apresiasi terhadap karya sastra Jadi melalui cerita sastra anak-anak mengembangkan potansi intelektualnya. Ketika anak-anak diajak membaca karya sastra, anak-anak diajak berpetualang melalui pengalaman-pengalaman tokoh yang bergerak dalam berbagai peristiwa yang dialami tokoh dalam cerita. Dalam kegiatan belajar mengajar sastra di kelas guru dapat membimbing anak mengkritisi cerita sastra, menebak cerita detektif, memprediksi cerita, menemukan bukti, dan alasan bertindak. Dari bacaan tersebut anak juga bisa mengembangkan bahasa melalui kata-kata, nyanyian, dan lirik lagu. Bacaan sastra yang baik buat anak adalah bacaan yang memilki struktur kalimat yang sederhana dan diksi yang mudah dipahami oleh anak. Selain itu unsur gaya bahasa berperan penting dalam menciptakan keindahan karya sastra. Permainan bunyi, kata-kata dan rasa bahasa dapat juga menciptakan irama keindahan. Rasa indah dan rasa senang memberikan efek kebahagiaaan bagi penikmatnya sehingga mudah dicerna dan diapresiasi. Dengan demikian bahasa berperan penting dalam menentukan tingkat pemahaman anak terhadap sastra. Peranan bacaan sastra selain membentuk kepribadian anak, dapat juga menumbuhkembangkan rasa ingin tahu anak. Rasa ingin tahu anak harus dikembangkan agar anak dapat mengambil berbagai ilmu pengetahuan dan budaya. Melalui bahasa sastra dapat mempertemukan anak pada budaya yang berbeda-beda. Wawasan anak tentang budaya bisa bertambah karena berbagai sikap dan perilaku hidup yang dicerminkan dalam karya sastra. Berbagai sikap dan perilaku tersebut dapat dieksplorasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh anak, sebgai penikmat sastra.   DAFTAR PUSTAKA “Pendidikan Karakter,” diunduh dari http://www.kemdiknas.go.id/melalui google.com 2 September 2016 Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya. Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University