MENU DISABILITAS

Jln. Syech Nawawi Al Bantani Blok Instansi Vertikal No.01 KP3B Curug Kota Serang
kanwilbanten@kemenag.go.id
Berita Umum

Memaafkan Untuk Meraih Ampunan

Memaafkan Untuk Meraih Ampunan


  • Senin, 02 Jul 2018
  • 333 Views

Share this article

NULL Foto : NULL

Memaafkan Untuk Meraih Ampunan

Oleh: Munawir AM

(Pengawas Kemenag Kota Tangsel)

  Manusia yang baik bukan yang tidak punya dosa atau kesalahan. Karena manusia diciptakan lengkap dengan perangkat lunak bernama nafsu, yang memiliki kecenderungan ke arah kebaikan (taqwa), sekaligus kecenderungan ke arah kejahatan (fujur). Manusia yang baik adalah yang selalu mengakui kesalahan dan kemudian meminta ampun (bertaubat) setiap kali berbuat dosa. Demikian kurang lebih makna sabda Rasulullah Saw “ Semua manusia (Bani Adam) adalah pendosa (sering berbuat dosa, baik disengaja maupun tidak), dan sebaik-baik pendosa adalah yang suka bertaubat.”(HR. ) Masalahnya, bertaubat itu sulit sekali bagi kebanyakan manusia, boleh jadi termasuk kita. Bukan sulit dalam mengucapkan istighfar sebagai bentuk zikir ritualnya, tetapi sulit dalam menghayati istighfar itu sebagai bentuk pengakuan atas kesalahan-kesalahan. Karena bertaubat secara serius (dikenal dengan taubat nasuha) mengharuskan adanya pengakuan dosa, terutama dosa kepada sesama manusia, di samping janji untuk tidak mengulangiperbuatan dosa. Tidak aneh memang, karena manusia itu lebih pandai melihat kebaikan diri dari pada kekurangannya. Sepandai melihat kekuarangan orang lain dari pada kelebihannya. Itulah tabiat manusia pada umumnya. Marah dan Maaf Bertaubat secara serius sudah begitu sulit. Tetapi ternyata memaafkan masih lebih sulit lagi dibanding bertaubat. Karena memaafkan tidak mungkin dilakukan, sebelum kita mampu menaklukan nafsu kita pada saat api kemarahan bergejolak. Orang yang tidak mampu mengendalikan amarahnya, tidak mungkin dapat memaafkan orang yang membuatnya marah. Begitu sulitnya memaafkan, sehingga seorang sahabat nabi yang utama, sekelas Abu Bakr Ashidiq, pun pernah dikuasai oleh nafsu saat marah, sampai-sampai beliau bersumpah untuk menghentikan suplai sedekah kepada para sahabat muhajirin yang hidup miskin di Madinah, yang sebelumnya ditanggung kelayakan hidupnya oleh beliau. Kita tentu bertanya-tanya, masalah apa gerangan yang mampu menjebol pertahanan ruhani Abu Bakr, hingga seorang sahabat yang dikenal dermawan dan santun, sampai marah besar? Ternyata, jika dilihat dari sebabnya memang pantas membuat beliau dan siapapun menjadi marah. Betapa tidak, putrinya tercinta yang tidak lain adalah istri rasulullah saw, Aisyah RA, ditimpa fitnah yang sangat keji, yaitu berselingkuh dengan seorang sahabat yang bernama Safwan bin Muaththal, dalam peristiwa kepulangan rombongan dari Bani Musthaliq. Celakanya, kaum kerabat dan para sahabat miskin yang kelayakan kehidupannya di Madinah dijamin oleh Abu Bakar, pun turut termakan fitnah, sehingga ikut-ikutan bergosip seputar perselingkuhan Aisyah RA. Fitnah keji tersebut hampir-hampir memporak-porandakan kehidupan keluarga rasul, kalau saja Allah SWT tidak segera memberikan klarifikasi dengan berita langit-Nya, dengan menurunkan ayat 11 dari surah an-Nur. Dengan turunnya ayat tersebut, semua menjadi terang benderang, bahwa berita perselingkuhan Aisyah adalah benar-benar fitnah yang dihembuskan oleh orang-orang munafik, yang dimotori oleh Abdullah bin Ubai. Tujuan fitnah tersebut tidak lain untuk menjatuhkan wibawa dan citra rasulullah dan keluarganya, di hadapan umat dan dunia. Dalam lembaran sirah, kisah tersebut dikenal dengan istilah Haditsul Ifki, atau cerita bohong. Itulah fitnah keji yang menyulut kemarahan Abu Bakar. Namun rupanya Allah menghendaki agar peristiwa itu menjadi pelajaran penting bagi orang beriman, dalam menghadapi ujian keyakinan dan kesetiaan. Sekaligus memberikan contoh kasus, bagaimana orang-orang munafik mengadu-domba orang beriman dalam kehidupan bermasyarakat. Dan ternyata, peristiwa inilah yang kemudian menjadi asbabunnuzul atau latar belakang dan penyebab turunnya ayat 22 pada surah yang sama (an-nur), yaitu firman Allah SWT: “ dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu, bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. An-Nur/24:22) Begitu mendengar tantangan Allah  “tidak inginkah kalian diampuni oleh Allah”, serta merta Abu Bakr menjawab; “tentu ya Allah, kami berharap ampunan-Mu.” Kemudian, detik itu juga, Abu Bakr menarik sumpahnya, dan kembali menyantuni para sahabat yang miskin seperti semula. Meraih Ampunan Allah Salah satu pelajaran penting yang terdapat dalam ayat di atas ialah tentang pentingnya memaafkan sesama dalam rangka menggapai ampunan Allah SWT. Jika kita ingin mendapatkan ampunan Allah, maka tidak ada kata lain kecuali kita harus berusaha memaafkan semua orang yang pernah berbuat jahat kepada kita, baik diminta atau tidak, kemudian berlapang dada. Memaafkan kesalahan orang lain, ternyata merupakan syarat utama untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Dari tantangan Allah dalam bentuk pertanyaan, “Alaa tuhibbuuna...”, dapat kita rasakan kesan yang sangat kuat, bahwa memaafkan sesama hamba, menjadi tiket untuk meraih ampunan Allah SWT. Kita pun pernah mendengar kisah sahih dari Rasulullah, yang semakin menguatkan makna tersebut. Di antaranya, adalah kisah tentang seorang hamba yang ibadahnya biasa saja, tetapi Rasul mengklaimnya sebagai penghuni surga. Ternyata, belakangan diketahui bahwa sang hamba tadi, setiap hendak tidur, ia berusaha memaafkan semua orang yang pernah berbuat jahat kepadanya. Pelajaran ini merupakan motivasi bagi kita semua, agar berjuang untuk menjadi pemaaf, karena memaafkan sesama ternyata berbanding lurus dengan ampunan Allah kepada hamba-Nya. Jadi, jika kita masih butuh ampunan Allah, maka tidak ada kata lain, bahwa kita harus terus belajar menjadi pemaaf. Namun ada hal naif yang sering terjadi dalam masalah permaafan, yaitu, seringkali manusia berlaku melebihi Allah dalam kesombonganya. Jika Allah SWT. Yang selalu berbuat baik kepada kita saja, selalu membuka pintu taubat untuk hamba-hamba-Nya, betapapun besarnya kesalahan mereka. Lalu siapa kita, sehingga kita begitu berat untuk memaafkan sesama? Seakan kita tidak pernah berbuat salah, hingga  kita merasa pantas untuk mengatakan “tiada maaf bagimu”, kepada orang lain yang sengaja meminta maaf kepada kita. Atau kita tidak lagi membutuhkan ampunan Allah? Astaghfirullahal ‘aziim... Sebagai umat islam, kita meyakini bahwa setiap yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya pasti mengandung manfaat dan kebaikan. Sebaliknya, semua yang dilarang-Nya pasti mengandung bahaya dan keburukan. Begitupun dengan perintah memaafkan. Wallahu A’lam bishshawab, ilaihil marji’u wal ma’aab..