MENU DISABILITAS
Jln. Syech Nawawi Al Bantani Blok Instansi Vertikal No.01 KP3B Curug Kota Serang
kanwilbanten@kemenag.go.id
Kekayaan Bukan Tanda Allah SWT Mencintai Seseorang
Foto : NULL
Oleh: Azharul Fuad Mahfudh (Humas Kemenag Tangsel)
Siapa yang menolak menjadi jutawan atau bahkan milyarder? Semua orang pasti ingin menjadi orang kaya. Laki-laki ingin kaya, perempuan ingin kaya, orang kampung ingin kaya, dan orang kota pun pasti ingin kaya. Seseorang dengan uang melimpah dapat membeli semua yang ia butuhkan. Mau baju bagus, ia bisa membelinya di toko ternama. Ingin rumah mewah, ia bisa membeli rumah di kawasan elite. Tidaklah salah jika seseorang bercita-cita menjadi orang kaya. Yang salah adalah jika ada yang menyatakan bahwa "kekayaan adalah suatu kemuliaan, dan kemiskinan adalah suatu kehinaan". Padahal sebenarnya, kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Allah bagi hamba-hamba-Nya. Ada satu syarat penting agar menjadi orang kaya, yaitu ia harus juga sholeh dan sabar. Ternyata, menjadi orang kaya harus memiliki kesabaran. Sepertinya sabar ketika sedang pailit akan lebih memungkinkan daripada sabar ketika kita bergelimang harta. Sebab, ketika memiliki harta melimpah, maka akan semakin banyak godaan yang dapat meruntuhkan benteng kesabaran. Godaan bagi orang kaya biasanya adalah adanya keinginan untuk memperlihatkan kekayaannya, atau lebih dikenal dengan sebutan pamer. Berbagai cara digunakan agar orang lain tahu bahwa ia memiliki segalanya. Aktivitas pamer dimulai dari menampakkan aksesoris yang bisa dipakai di badan. Kekayaan yang melimpah ruah dapat menyebabkan seseorang itu mulia, jika ia menggunakan hartanya di jalan Allah dan membelanjakannya untuk mencari keridhaan Allah SWT . (Lihat QS. Al-Baqarah/2: 265). Islam mengajarkan kita untuk menjadi orang kaya yang sholeh, dan menjadi miskin bukanlah suatu hal yang hina, apalagi kalau ternyata kemiskinan itu dapat menjadikannya seorang yang mulia. Yang lebih buruk adalah, miskin dan tidak sholeh. Artinya, dunia dan akhirat tidak didapat. "Sudah jatuh tertimpa tangga pula", ungkapan itulah yang tepat bagi orang yang tidak mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Ada anggapan, bahwa semakin banyak kemewahan dunia yang dimiliki seseorang, itu artinya Allah semakin mencintai orang tersebut. Padahal, kemewahan dunia ini bukanlah tanda bahwa Allah mencintai atau membenci seseorang. Dunia hanya cobaan, baik untuk yang kaya maupun yang miskin. Di dunia ini, sejak Nabi Adam as, ada dua orang super kaya, yang kekayaannya tidak mungkin terkalahkan hingga hari kiamat. Yang pertama yaitu Nabi Sulaiman as, kekayaan dan kekuasaanya sangat luar biasa. Tapi ketika beliau diberikan nikmat yang begitu banyak, apa kata beliau? Beliau berkata, “Ini semua hanyalah anugerah dari Tuhanku, untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya.” (QS. An-Naml/27: 40) Orang kedua yaitu Qorun yang hidup di zaman Nabi Musa as. Kekayaannya sungguh luar biasa. Al-Qur`an menggambarkan, untuk mengangkat kunci gudang hartanya saja, harus dipikul oleh beberapa orang yang kuat. (lihat QS. Al-Qashash/28: 76) Banyak literatur yang mengatakan bahwa Qarun memiliki ribuan bahkan lebih gudang-gudang khusus untuk menyimpan harta-hartanya. Dalam satu gudangnya berisi semua benda berharga dengan nilai yang tak main-main, mulai dari emas, perak, permata, serta benda-benda berharga tinggi lainnya. Tapi, ketika ia diberikan nikmat yang begitu luar biasa oleh Allah, apa katanya? Ia berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash/28: 78) Dan karena kesombongannya, Qorun beserta hartanya dibenamkan oleh Allah ke dasar bumi. (QS. Al-Qashash/28: 81) Sekali lagi, Islam tidak melarang umatnya hidup mewah. Islam idak melarang umatnya hidup kaya. Malah sebaliknya, umat Islam harus kaya, minimal berkecukupan. Karena di dalam rukun Islam ada kewajiban zakat dan haji, yang keduanya membutuhkan harta yang cukup banyak. Tapi jangan sampai harta tersebut menjadikan kita lalai kepada Allah. Menjadi kaya bukan sesuatu yang buruk, tapi bukan juga sesuatu yang baik, karena ia merupakan cobaan berupa nikmat. Dan setiap nikmat yang kita miliki kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. Semua nikmat yang kita miliki; mata untuk melihat, mulut untuk berkata-kata, telinga untuk mendengar, yang kita tidak perlu download aplikasi Android untuk menggunakannya, kendaraan yang kita gunakan, rumah yang kita tidur di dalamnya, semua itu “Tsumma latus`alunna yawma`idzin ‘anin-na’iim”, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Asy-Syaukani memberi definisi tentang “Na’iim”, yaitu “Alladzi alhaakum ‘anil a’maalil-aakhirah”, yaitu segala nikmat yang membuat kita lalai untuk urusan akhirat. Jika kita selalu ingat bahwa semua nikmat akan dimintai pertanggungjawaban, maka kita tidak akan membiarkan nikmat-nikmat itu melalaikan kita, justru membuat kita tetap di jalan-Nya. Nikmat dari Allah menjadi jalan untuk mengingat-Nya dan bersyukur kepada-Nya, karena semua nikmat tersebut bukan milik kita, tapi milik Allah, yang pada akhirnya akan dikembalikan kepada-Nya. Bagaimana caranya? Transfer nikmat harta itu di jalan Allah. Setiap kita memiliki rekening akhirat, sudah berapa banyak kita isi rekening akhirat kita? Harta yang kita miliki belumlah menjadi rezeki kita sampai harta tersebut kita edarkan. Dan bagaimanapun.. "Tidak setiap orang yang Aku beri nikmat dan Aku lapangkan rezekinya berarti dia Aku muliakan, TIDAK! Dan tidak setiap orang yang Aku miskinkan berarti dia Aku hina, TIDAK! Justru, yang satu sedang Aku uji dengan kesenangan, dan yang lain sedang Aku muliakan dengan cobaan". (Tafsir QS. Al-Fajr/89: 15-16)