Foto : NULL
Oleh : H. A. Baijuri, S.Pd.I, M.Si Ramadhan berasal dari Bahasa arab, yaitu ramaidha atau arramadh yang berarti panas matahari yang terus menerus membakar sehingga sebagian Ulama yang mengartikan bahwa Ramadhan adalah bulan dimana kita membakar dosa-dosa dan kesalahan kita, ada juga yang mengartikan zaman dahulu suasananya sangat panas, kering ditambah keadaan geografis yang didominasi oleh padang pasir, sehingga diwajibkan atas kita berpuasa agar bisa merasakan lapar dan dahaga di tengah padang pasir sebagaimana orang-orang terdahulu merasakannya. Dari kedua pengertian tersebut sebagai manusia yang beriman kita harus bisa menadabburi dan memaknai Ramadhan lebih dalam agar bisa memaknai Ramadhan secara substansial. Substansi bulan Ramadhan tidak hanya ada pada dalamnya pemahaman kita mengenai arti dan sejarah bulan Ramadhan itu sendiri, tapi ada pada bagaimana kita menjalaninya. Rasulullah SAW bersabda : ?? ??? ????? ?????? ???????? ????? ?? ???? ?? ???? “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan atas dasar Imanan wahtisaaban (Iman dan mengharap pahala dari Allah) maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR Bukhori) Yang perlu digaris bawahi adalah tidak cukup menjalani ibadah puasa Ramadhan hanya menahan lapar dan dahaga, berpuasa harus atas dasar Imanan wahtisaban. Disinilah 5 Nilai Budaya Kerja Kementerian Agama berperan. Dalam hal ini bekerja saat bulan Ramadhan memiliki dua dimensi yang sangat kuat, yaitu HablummniaAllah dan Hablumminannas. Tanggungjawab kita kepada Allah dan bentuk tanggungjawab kita terhadap amanat yang diberikan sebagai ASN dalam bentuk pelayanan kepada masyarakat. Dalam pelaksanaanya tentulah Ramadhan akan bertambah keberkahannya jika Hablumminannasnya kita isi dengan 5 Nilai Budaya Kerja. Pertama adalah Integritas, yaitu keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar. Iman adalah pengakuan kebenaran yang dilakukan oleh hati, pernyataan yang diucapkan oleh lisan dan pengamalan atau implementasi dengan sebuah perbuatan. Semuanya butuh sikap hati. Tidak beriman seseorang jika hanya berhenti pada ucapan lisan tanpa pembenaran oleh hati. Di sinilah letak pentingnya peran sebuah hati, semuanya ditentukan oleh hati. Begitupun dalam bekerja, harus diniatkan dalam hati untuk melayani masyarakat, memfasilitasi kebutuhan masyarakat tidak hanya dibuktikan dengan perilaku dengan masuk kantor tepat waktu, tetapi hati juga diniatkan untuk menolong sesama. Kedua adalah Profesionalitas, yaitu bekerja secara disiplin, kompeten dan tepat waktu dengan hasil terbaik. Penyakit yang ada dalam diri pekerja biasanya hal-hal yang bersifat seremonial atau sekadar ritual semata. Masuk kantor, absen kedatangan lalu pulang sesuai jadwal. Hanya semata-mata memenuhi standar kerja. Jika hal ini terus terjadi, apalagi berlangsung secara ramadahan dengan berpuasa hanya sekadar berpuasa menggugurkan kewajiban tidak dibarengi dengan niat bertaqarrub kepada Allah, SWT. Maka outpunya pun akan seperti itu, hasil yang diperolehpun hanya akan menjadi formalitas semata. Begitupun dengan bekerja, seharusnya tidak hanya untuk sekadar memenuhi absen tetapi harus beriktikad menghasilkan produk kerja terbaik dan pelayanan terbaik. Ketiga adalah Inovasi, yaitu menyempurnakan yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik. “ Melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi yang baru yang lebih baik” sesuai dengan Maqolah tersebut, secara tersirat sebenarnya kita diminta untuk berinovasi tanpa sedikitpun meninggalkan hal-hal lama yang baik. Mentajdid segala hal sehingga relevan dengan keadaan dan kebutuhan. Begitupun dalam bekerja, harus banyak melakukan inovasi dan yang lebih penting adalah bisa memiliki sifat adaptif menghadapi perubahan yang ada. Keempat adalah Tanggung Jawab, yaitu bekerja secara tuntas dan konsekuen. Bebeda dengan sholat, zakat atau haji yang bisa dinilai oleh mata, puasa bukanlah ibadah yang bisa kita nilai dengan kasat mata, karena yang mengetahui orang berpuasa adalah diri sendiri dan Allah SWT. Maka puasa tidak bisa dijalankan tanpa dengan tanggungjawab karena bisa saja orang mengaku berpuasa di depan orang banyak sementara berbuka puasa saat sendiri. Itulah pentingnya tanggungjawab harus ditanamkan dalam bekerja dan berpuasa. Kelima adalah Keteladanan, yaitu menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Jika keempat dari lima nilai budaya kerja bisa dilaksanakan dengan baik, maka keteladanan sudah otomatis pantas dinisbatkan kepada orang tersebut. Dalam berpuasa dan bekerja hendaknya seseorang tidak hanya bisa menjadi teladan bagi dirinya sendiri tapi juga begi orang lain. Karena sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang baik akhlaknya dan bermanfaat bagi orang lain. Manfaat tidak hanya berupa benda yang bisa kita berikan kepada orang lain tetapi bisa juga berupa keteladanan atau contoh. Karena dengan keteladanan kita bisa menjadi sebab orang lain berbuat baik dan bisa menjadi motivasi orang lain untuk menjadi lebih baik. Jika kita bisa berpuasa dan bekerja dengan lima nilai buaya kerja maka puasa InsyAllah akan bertambah berkah dan terasa jauh lebih indah. Maka hendaknya sebagai pekerja kita bekerja tidak hanya memenuhi standar bekerja saja tetapi niatkan untuk beribadah. Niatkan untuk menebar manfaat bagi diri sendiri, keluarga dan semua orang. ??? ???? ? ?????? ????? ??????? ????