MENU DISABILITAS
Jln. Syech Nawawi Al Bantani Blok Instansi Vertikal No.01 KP3B Curug Kota Serang
kanwilbanten@kemenag.go.id
Bermegah-megahan Telah Melalaikanmu
Foto : NULL
Oleh: H. Azharul Fuad Mahfudh, S.Ag
(Humas Kemenag Kota Tangsel)
Di dalam QS. at-Takaatsur/102 ayat 1, Allah SWT berfirman, "Bermegah-megahan telah melalaikanmu.” Di ayat ini Allah SWT menggunakan kata “AlHaa” yang dalam bahasa Arab berbentuk masa lampau (past tense). Kata “AlHaa” berasal dari kata “LaHwun” (lam-Ha-waw) yang secara harfiah berarti “Hiburan”. Misalnya dalam ayat: ????????? ???????? ?????????? ?????????? ?????? ???????? “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan hiburan semata.” (QS. Al-Hadiid: 20) Arti lain dari kata “Lahwun” adalah sesuatu yang membuat sibuk dan mengalihkan kita dari sesuatu yang seharusnya dilakukan. Dan itulah sebenarnya esensi dari “Hiburan”. Hiburan itu esensinya adalah membuang waktu, yang seharusnya digunakan untuk sesuatu yang produktif, tapi malah dihabiskan untuk menghibur diri. Bentuk masdar dari "alHaa" adalah “ilHaa”, yang berarti mengalihkan atau melalaikan, sehingga menjauh dari suatu yang penting kepada sesuatu yang kurang penting. Maka ada ayat: ??? ???????? ????????? ??????? ??? ?????????? ????????????? ????? ????????????? ???? ?????? ??????? “Wahai orang-orang yang beriman, jangan biarkan harta dan anak-anakmu melalaikanmu (menjauhkanmu/mengalihkanmu) dari mengingat Allah.” (QS. Al-Munafiqun: 9) Harusnya, harta dan anak-anak membuat kita lebih mengingat Allah, dan bukan sebaliknya. Ketika seseorang mendapatkan banyak kemewahan dunia: rumah yang nyaman, kendaraan, baju yang bagus, dan lain-lain, biasanya mengucap “Alhamdulillah”. Itu baik dan memang sudah semestinya. Tapi harusnya ia juga mengucap, "Astaghfirullah, nanti aku juga akan ditanya tentang nikmat-nikmat ini!”. “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. At-Takaatsur/102: 8) Semakin banyak yang kita punya, akan semakin banyak ditanya dan dimintai pertanggung jawaban. Semakin sedikit, tentu akan semakin sedikit pula yang akan ditanya dan dimintai pertanggung jawaban. Tidak salah punya banyak harta dan kelebihan nikmat, tapi juga harus siap ditanya dan siap menjawab. Ada anggapan, "Semakin banyak kemewahan dunia yang dimiliki, itu artinya Allah semakin cinta." Padahal, kemewahan dunia bukan tanda bahwa Allah mencintai atau membenci seseorang. Dunia hanya cobaan, baik untuk yang kaya maupun yang miskin. "Tidak setiap orang yang Aku beri nikmat dan Aku lapangkan rezekinya berarti dia Kumuliakan, TIDAK! Dan tidak setiap orang yang Aku miskinkan berarti dia Kuhinakan, TIDAK! Justru yang satu Kuuji dengan kesenangan dan yang lain Kumuliakan dengan cobaan." (Tafsir QS. Al-Fajr/89: 15-16) Banyak cerita orang yang kaya raya tapi berakhir buruk, Fir’aun dan Qorun misalnya. Menjadi kaya bukan sesuatu yang buruk, tapi bukan juga sesuatu yang baik, karena ia merupakan cobaan berupa nikmat yang kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. Semua nikmat yang kita nikmati: mata yang dapat melihat, mulut yang dapat berkata-kata, telinga yang dapat mendengar, yang kita tidak perlu mendownload aplikasi Android untuk menggunakannya, kendaraan yang kita gunakan, rumah yang kita tidur di dalamnya, semua itu “Tsumma latus`alunna yawma`idzin ‘anin-na’iim.” Asy-Syaukani memberi definisi tentang “Na’iim”, yaitu “Alladzi alHaakum ‘anil a’maalil-aakhirah”, yaitu yang membuat kita lalai untuk urusan akhirat. Jika kita selalu ingat bahwa semua nikmat akan dimintai pertanggung jawaban, maka kita tidak akan membiarkan nikmat-nikmat itu melalaikan kita, justru seharusnya membuat kita tetap di jalan-Nya. Nikmat dari Allah menjadi jalan untuk mengingat-Nya dan bersyukur kepada-Nya, karena semua nikmat tersebut bukan milik kita, tapi milik Allah, yang pada akhirnya akan dikembalikan kepada-Nya.