MENU DISABILITAS

Jln. Syech Nawawi Al Bantani Blok Instansi Vertikal No.01 KP3B Curug Kota Serang
kanwilbanten@kemenag.go.id
Berita Umum

Mengambil Hikmah Dari Kehidupan Tokek

Mengambil Hikmah Dari Kehidupan Tokek


  • Minggu, 26 Nov 2017
  • 496 Views

Share this article

NULL Foto : NULL

Mengambil Hikmah Dari Kehidupan Tokek

(H. Azharul Fuad Mahfudh | Humas Kemenag Kota Tangsel)

  Entah dari mana tokek di rumahku ini berasal. Aku bukan peneliti, hingga pertanyaan itu kuhentikan sebagai pertanyaan dan tak butuh jawaban. Yang jelas, sampai saat ini ia sudah beranak pinak. Aku bisa mendengar bunyi mereka di titik yang berbeda dengan karakter suara yang juga berbeda. Artinya, jumlah mereka telah bertambah. Ada yang gemar berbunyi di dalam pipa pembuangan air, sehingga suaranya yang serak itu menggema. Kami sekeluarga sering tertawa saat mendengar suara itu. “Seperti pakai echo,” kata sulungku. Tokek-tokek itu tidak liar walau juga tidak jinak. Ia menolak untuk disentuh, tapi tidak lari kalau didekati. Wajah dan bentuknya tidak ramah sebetulnya, tapi entah kenapa kami merasa baik-baik saja. Mereka tak kami tafsirkan sebagai hewan yang menakutkan dan bukan juga gangguan. Mungkin karena kami terkena sugesti kepercayaan bahwa rumah yang dihuni tokek, penghuninya akan lancar rezeki. Aku senang dengan sugesti ini, minimal aku mendapat rezeki tambahan teman di rumah kami. Dari sekian tokek yang sering kami lihat, ada yang terbesar dan dugaan kami ia adalah sesepuhnya. Aku jarang mendengar bunyinya, tapi sangat sering melihat kemunculannya. Begitu seringnya, sampai aku hapal tempat mangkalnya, yaitu di belakang bingkai kaligrafi yang lebar. Itulah mungkin kenapa ia betah dan merasa terlindung di sana. Begitu nyaman tempat mangkal itu, sampai setiap aku lewat dan menengok, tokek sesepuh itu selalu di situ. Artinya ia nyaris tak pernah pergi. Fakta ini menarik perhatianku, hingga aku bertanya dalam hati: “Bagaimana caranya mencari makan?” Benar ia menunggu serangga, benar sesekali musim laron di rumah kami. Tapi laron tidak pasti datang sebulan sekali. Artinya, ia hanya menunggu nyamuk lewat, dan selalu adakah nyamuk lewat di jalur itu? Kalaupun ada, pasti sesekali dan pasti gizinya tak mencukupi. Tapi anehnya, tokek ini tak terlihat seperti kurang gizi. Ia kekar dan gagah. Artinya ia cukup makan. Cukup makan tapi jarang bepergian. Hanya menunggu. Beda dengan aku. Untuk mencari nafkah sungguh harus berangkat pagi pulang sore dan kesana kemari. Tokek ini tampaknya yakin sekali bahwa rezekinya telah disediakan Tuhan. Aku kagum dan iri. Dari sinilah aku bertambah yakin bahwa rezeki itu sudah dijamin oleh Yang Maha Pencipta, Allah SWT. “dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya, semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS.Huud/11 : 6) Dari kehidupan tokek ini, aku sering mengajarkan anak untuk merasa yakin bahwa rezeki itu sudah disiapkan oleh Allah SWT. “Tugas kita hanya ikhtiar, usaha, dan berdoa. Karena usaha itu wajib, dapatnya sunnah,” kataku kepada anak-anak. Pernah suatu kali, anak sulungku kehilangan dompet saat menghadiri resepsi pernikahan kakak kelasnya. “Isinya gak banyak sih, cuma 260 ribu. Tapi di situ ada KTP dan kartu mahasiswa abang,” jelasnya. Aku ikut terenyuh, karena aku tahu uang yang tak seberapa itu adalah hasil dia menabung dari sisa-sisa uang jajannya dan jerih payahnya tampil bersama group bandnya. “Kalau memang rezeki, pasti ketemu, bang! Apalagi abang dapatnya dari cara yang halal”, hiburku. “Rezeki itu sebenarnya mengejar kita. Hanya ia biasa berpura-pura agar kitalah yang mengejarnya,” tambahku. Anak sulungku manggut-manggut. Dan.. satu jam kemudian anakku mendapat kabar dompetnya ditemukan oleh petugas catering yang baik hati. Isinya utuh, tidak berkurang sedikitpun. Rezeki, kalau ia sudah menjadi hak kita, ia akan diproteksi. Bentuknya tergantung keadaan dan disesuaikan kondisi. Sebab, bisa saja terjadi penemu dompet anakku itu tidak menghubungi anakku untuk mengembalikan dompetnya. Tapi Allah menggerakkan hati si penemu itu untuk memilih mengembalikan dompet anakku. Banyak orang putus asa dan hilang keyakinannya kepada Allah hanya karena soal rezeki, hingga akhirnya mengambil cara yang tidak direstui agama. Padahal, banyak cara menjemput rezeki yang halal. Oleh karena itu, lupakan rezeki yang haram. Buat apa yang haram, yang halal saja banyak jika kita mau berusaha. Orang yang berkata, “Yang haram saja susah, apalagi yang halal” adalah orang yang sudah putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya, rezeki Allah tidak akan habis meskipun semua manusia kaya raya dengan cara yang halal. Aku pernah membaca sebuah kisah dalam bahasa Arab yang ada hubungannya dengan rezeki. Ada seorang pria jatuh ke dalam sumur, ia pun berteriak minta tolong. Orang-orang mendengar teriakannya, lalu berusaha menyelamatkan dan mengangkatnya dari dalam sumur. Datanglah seseorang memberinya minum segelas susu kepada pria tersebut agar tenang. Kemudian orang-orang bertanya kepadanya, bagaimana ia bisa jatuh ke dalam sumur. Pria itu pun menjelaskan kronologi kenapa ia sampai terjatuh, ia berdiri di tepi sumur untuk menjelaskan mereka. Tapi tiba-tiba ia terjatuh lagi dan mati! Seorang syeikh berkata mengomentari cerita ini: “Sesungguhnya, pria ini sisa rezekinya adalah meminum susu. Ketika ia telah meminumnya, maka habislah rezeki yang telah ditetapkan untuknya, ia terjatuh di tempat yang sama dan mati.” Syeikh melanjutkan, “Jangan takut atas rezekimu, cukup lakukan sebab-sebabnya. Karena Yang Maha Memberi Rezeki adalah Allah. Dan setiap jiwa tidak akan mati sebelum jatah rezeki yang telah ditetapkan untuknya telah habis”. Maka, keyakinanku makin bertambah, “Selama kita hidup, pasti ada jatah rezeki yang disiapkan Allah. Bila sudah tidak ada jatah rezeki, berarti Allah ingin berjumpa dengan kita.” (#af_m)