MENU DISABILITAS
Jln. Syech Nawawi Al Bantani Blok Instansi Vertikal No.01 KP3B Curug Kota Serang
kanwilbanten@kemenag.go.id
Jangan Biarkan Kupu-kupu yang Indah itu Berubah Kembali Menjadi Ulat yang Menjijikkan
Foto : NULL
Oleh: Azharul Fuad Mahfudh
(Humas Kemenag Kota Tangsel)
Seekor kupu-kupu yang indah sebelumnya adalah seekor ulat yang mungkin menjijikkan. Tetapi setelah ia dikarantina dalam kepompong, akhirnya ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yang mengundang decak kagum bagi siapapun yang melihatnya.? Begitu pula orang-orang mu’min. Sebelum Ramadhan dosanya mungkin menumpuk, hatinya penuh dengan kedengkian, kesabaran seolah-olah barang kuno, kemarahan menjadi senjata ampuh, dan sederet keburukan lainnya yang melekat pada diri dan kehidupannya, sehingga tidak pantas rasanya dibanggakan oleh Allah SWT. Namun, setelah Ramadhan hadir dan dimanfaatkannya dengan memperbanyak ibadah, istighfar dan bermunajat kepada Allah, maka Insya Allah ia menjelma menjadi pribadi yang bertakwa dan menjadi kebanggaan Allah SWT. Dalam Ramadhanlah kesabaran ditempa, nafsu dikendalikan, ketakwaan diasah, dosa-dosa terampuni, keberkahan meliputi segala yang dimiliki, dan kemuliaan-kemuliaan lainnya yang tersedia, sehingga pribadi kita menjadi berkilauan, menjadi harum semerbak dengan aroma takwa, dan membuat Allah dan para malaikat-Nya bangga karena kita telah meraih apa yang menjadi tujuan berpuasa, yaitu takwa. Salah satu syarat agar apa-apa yang telah dilakukan di bulan Ramadhan kemarin diterima Allah SWT adalah mudah memaafkan orang lain dan berlapang dada. Di dalam al-Qur`an tidak ada perintah meminta maaf, yang ada adalah perintah memberi maaf (al-afwu) dan lapang dada (as-shafhu). Memberi maaf (al-afwu) yang baik harus diikuti dengan sikap lapang dada (as-shafhu). As-shafhu lebih tinggi nilainya dibanding al-afwu. Pada al-afwu, boleh jadi ada sesuatu yang sulit dihapus dan dibersihkan. Ibarat lembaran yang terkena noda, meskipun sudah dibersihkan, ia tidak akan sebagus lembaran yang baru. Sedangkan pada as-Shafhu, yang darinya muncul kata "shafhah" (lembaran buku), adalah mengganti lembaran-lembaran yang sobek, lusuh atau kotor dengan lembaran yang baru, dan lembaran lama dibuang. "Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. an-Nuur/24: 22) Padamkan api kebencian yang bersemayam di dalam dada dengan memaafkan dan berlapang dada kepada orang yang pernah menyakiti. Memang sulit, tapi harus diupayakan. Karena hanya itu satu-satunya jalan agar api kebencian di dalam hati bisa padam. Hal lain yang harus menjadi perhatian kita adalah bahwa ukuran sukses-tidaknya Ramadhan seseorang yaitu, “Apakah semua hal-hal baik yang telah dilakukannya di Ramadhan kemarin terus diwujudkan dalam 11 bulan ke depan?". Apakah puasa, tilawah, sedekah, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya tetap dilakukan pasca Ramadhan? Jika semua itu ikut pergi bersamaan dengan perginya Ramadhan, maka “Banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga. Dan banyak yang melakukan shalat malam, juga tak dapat apa-apa kecuali hanya begadang saja.” (HR. Ahmad) Ada satu ayat di dalam surat an-Nahl/16 ayat 92 yang sangat relevan dengan kondisi kita pasca Ramadhan ini, Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali." Ini bahasa kiasan dari Allah SWT. Kita telah berusaha "memintal" ibadah di Ramadhan, sholat awal waktu, ibadah sunnah dilakukan, al-Qur`an dilantunkan, sedekah ditunaikan, qiyaamul-layl didirikan, tapi apakah semua itu terus dilakukan di luar Ramadhan? Jika tidak, maka kita termasuk orang-orang yang digambarkan Allah SWT dalam ayat di atas. Ulat bulu yang menjijikkan itu kini telah keluar dari kepompong, dan terbang sebagai kupu-kupu yang indah. Terbanglah wahai kupu-kupu. Tebarlah keindahan sayapmu di muka bumi. Jangan pernah kembali menjadi ulat yang menjijikkan. Semoga.. (#af_m)