MENU DISABILITAS
Jln. Syech Nawawi Al Bantani Blok Instansi Vertikal No.01 KP3B Curug Kota Serang
kanwilbanten@kemenag.go.id
YOGI SETIADY BOCAH 8 TAHUN, MUALAF DARI KETAPANG
Foto : NULL
Eriyanti (44), ibu dari Yogi Setiady menceritakan kisah Yogi yang memilih untuk menjadi mualaf sejak kecil. Ia mengatakan ketika baru belajar berbicara Yogi memang suka pada hal-hal terkait Islam. Misalnya ketika melihat Masjid menurutnya Yogi pasti senang dan selalu menyebut ada alaaba. “Maksudnya itu Allahu Akbar,” tuturnya. Kalau diajak ke tempat ibadahnya Yogi selalu menolak. Pernah suatu kali dibawa Yogi menangis dan ngajak keluar mau pulang. Ketika dibawa pulang ke kampung halamannya di hulu yang banyak anjing dan babi, Yogi tidak suka dan takut tersentuh anjing atau babi. Juga ketika mereka makan daging babi, ia menolaknya karena sejak kecil pun tidak pernah mau makan daging babi. Tetapi kalau tetangganya di Ketapang ada acara seperti selamatan. Yogi selalu mengajak untuk pergi ke acara tersebut. “Katanya ayo ma kita pergi ke tempat orang amin-amin. Saya tanya di mana, katanya itu menunjukkan tempatnya, ternyata tempat orang Muslim selamatan gitu,” kenangnya. Kemudian awal masuk sekolah Yogi selalu meminta izin kepadanya untuk ikut teman-temannya mengaji dan solat. Lantaran merasa berbeda keyakinan awalnya ia melarang Yogi. “Saya bilang tak boleh, kita kan beda, tak sama, saya bilang gitu,” ungkapnya. “Tapi dia bilang mau ikut Islam saja. Di rumah ini kan ada handuk sering dibuatnya alas untuk sajadah, dia belajar sembahyang sendiri. Bahkan dia selalu mengajak teman-temannya seperti solat di rumah ini dan dia imamnya,” tuturnya. Kejadian itu pernah juga direkam abang Yogi. Saat masih kelas satu SD Yogi juga sering menghilang dari rumah, sore menjelang Magrib dan siang Jumat. “Pas Jumat ia tak sengaja melihat seperti Yogi pakai kopiah dan baju koko,” jelasnya. “Ternyata benar dan ketika pulang saya tanya dari mana, katanya dari masjid. Rupanya dia minjam baju kawannya untuk Solat Jumat. Saya bilang benar-benar Yogi, nanti kamu masuk Islam, dijawabnya dia memang mau masuk Islam,” lanjutnya. “Rupanya tiap sore hilang dia melihat cara orang Solat di surau dekat sini. Kalau pukul 15.00 WIB dia selalu pergi ke tempat-tempat pendidikan agama Islam. Di sekolah pun tak mau belajar agama kami, dia hanya mau belajar pas pelajaran agama Islam,” tambahnya. Pernah juga tetangganya mengatakan kalau Yogi menghilang sore maka dengar saja di Surau. Jika ada suara orang ngaji dan salawat itu adalah Yogi.“Jadi ku intai dan ternyata memang benar dan anak-anak lain pun ramai mengikutinya,” tuturnya. Ia menambahkan hingga belum lama ini Yogi memaksa minta disunat dan disahkan untuk memeluk agama Islam. “Jadi kita orangtua mengikhlaskannya. Hanya saya berharap setelah anak saya masuk Islam begini,” tegasnya. “Ia harus dibimbing dengan sebenar-benarnya untuk memperlajari agama Islam. Jangan nanti malah dilepas dan dibiarkan begitu saja,” harapnya seraya mendampingi Yogi. Sementara itu Yogi menegaskan masuk Islam karena memang keinginan sendiri. Ia mengaku sebelumnya ia sering belajar tentang Islam sendiri. Ia menegaskan masuk Islam karena ingin masuk surga nantinya. Di hadapan awak media ketika ia diminta melantunkan ayat Alquran dan doa dalam Islam. Tedi Kusnadi, ayah kandung Yogi Setiady mengaku telah merestui anaknya jadi mualaf. Yogi memilih berbeda keyakinan dengan kedua orangtuanya karena memutuskan masuk Agama Islam. Kusnadi beranggapan bahwa semua agama pasti mengajarkan hal baik. Kemudian anaknya sendiri benar-benar sudah bulat sejak lama ingin dimasukkan menjadi Agama Islam. Samsudin (44), ayah angkat yogi menceritakan keinginan Yogi sendiri untuk masuk Islam dan mengajaknya untuk salat di Masjid. “Saya dan Yogi dahulu pernah salat di Masjid Al-Ikhlas. Saat itu ia (Yogi-red) belum resmi beragama Islam,” Ia menjelaskan berani membawa Yogi salat ke Masjid Agung Al-Ikhlas karena keinginan Yogi sendiri. yang dibenarkan Eriyanti saat ditemui wartawan Tribunketapang di rumah orangtua Yogi di Ketapang, Sabtu (7/10/2017) kemarin. (Sumber TribunKetapang.com.6/10/2017 dan beberapa sumber lain) Uti Suhendra Dwipayana Melalui Posting Facebook menulis “Diantar sendiri oleh ibu kandungnya yang masih beragama non muslim ke KUA Delta Pawan dengan maksud untuk memeluk agama Islam. Ayah dan mama kandungnya telah mengikhlaskan anak ini masuk Islam, karena setiap saat terus "memaksa" ayah dan mamanya agar ia bisa masuk Islam. Dia rajin ke Surau setiap shalat lima waktu, belajar ngaji dan sholat. Ketika saya tes ngajinya, dia sudah hafal surat Al Fatihah, Al Ikhlas, doa ibu bapak, doa makan, dll. Ditanya cita-citanya, dengan tegas dia jawab ingin menjadi USTADZ. Pembacaan dua kalimat syahadat yang memang sudah lancar bahkan artinya sudah hapal ini disaksikan guru sekolahnya. Semoga Allah Subhanahuwataala meridhoi dan terus memberikan hidayah kepada anak ini.” Kisah ini telah menjadi viral di dunia maya, dan dalam waktu 4 hari hingga saat dibuat tulisan ini telah mendapat like sebanyak 15 ribu warganet dan 3742 kali dibagikan. (KangSay/Inmas/09/10/2017)